On the Track, Realisasi Penerimaan Bea Cukai Surakarta Rp1,1 Triliun

Oleh Wartawan: Deli Lubis & M. Syahbana

Kepala Kantor Bea dan Cukai Surakarta, Budi Santoso

Jakarta, portmediaonline.com:

Realisasi penerimaan Kantor Bea Cukai Surakarta hingga Agustus 2020 mencapai 54,5% atau setara Rp 1,16 triliun dari target sampai akhir tahun sebesar Rp1,8 triliun. Realisasi tersebut diklaim masih sesuai target meski di tengah kondisi pandemi Covid-19.

Keterangan tersebut disampaikan Kepala Kantor Bea dan Cukai Surakarta, Budi Santoso, di Kantor Bea Cukai Surakarta, Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Kamis (17/9/2020).

Budi mengatakan, sebelumnya target penerimaan pabean dan cukai tahun 2020 ditetapkan sebesar Rp1,9 triliun. Namun, target itu berubah menjadi Rp1,8 triliun seiring masa pandemi Covid-19 di Indonesia.

“Penerinaan terbanyak disumbangkan dari perusahaan rokok, hampir Rp1,5 triliun dari rokok. Dalam empat tahun terakhir, Bea Cukai Surakarta dapat memenuhi, bahkan melampui target,” jelasnya.

Dia merinci, pada 2016 realisasi penerimaan pabean dan cukai tercapai 113,12% atau sebesar Rp1,387 triliun, tahun 2017 tercapai 100,40% senilai Rp1,577 triliun, tahun 2018 tercapai 104% senilai Rp1,732 triliun dan tahun 2019 tercapai 105,76% senilai Rp1,882 triliun.

“Kalau realisasi dari bulan ke bulan masih on the track. Penerimaan lebih meningkat pada akhir September dan November. Karena jatuh tempo pembayaran cukai pada akhir September sehingga nanti akan ada kenaikan signifikan,” ucapnya.

Kondisi pandemi dinilai berpengaruh terhadap penerimaan kepabean dan cukai lantaran daya beli masyarakat turun. Kondisi tersebut dikhawatirkan menimbulkan meningkatnya rokok ilegal. 

“Orang tidak mampu beli tapi tidak mau berhenti merokok, pilihannya rokok yang lebih murah rokok ilegal. Sehingga kalau banyak rokok ilegal, penerimaan cukai berkurang,” imbuhnya.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan telah menaikkan tarif cukai. Sehingga penerimaan cukai masih sejalan dengan target.

Dia menambahkan, di Solo Raya terdapat 15 perusahaan pabrik rokok, serta enam perusahaan Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) di mana contoh produknya seperti vape.

Sepanjang 2020, lanjutnya, Kantor Bea Cukai Surakarta telah melakukan 45 kali penindakan. Kasus terakhir berupa pencegatan terhadap kontainer yang berisi 1.600 rol kain impor yang diselundupkan. 

Kasus lainnya, menindak rokok ilegal yakni sekitar 300.000 batang rokok disimpan dalam gudang. Selain itu, kasus minuman keras yang dijual secara daring jumlahnya ada 262 botol.

Pihaknya juga tengah menggencarkan Gerakan Gempur Rokok Ilegal sebagai optimalisasi penerimaan daerah melalui mekanisme Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

“Di Solo Raya ini salah satu kerawanan sektor rokok. Wilayah Jateng dan Jatim sentra produksi rokok. Motif orang menghindari cukai agar bisa jual lebih murah. Solo menjadi daerah perantara untuk distribusi rokok ilegal,” kata Budi.

Dalam menjalankan fungsi sebagai fasilitator perdagangan, Bea Cukai Surakarta memberikan fasiltas Kawasan Berikat kepada 72 perusahaan, 20 perusahaan mendapat fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) dan 19 perusahaan mendapat fasilitas KITE IKM (Industri Kecil Menengah).

Fasilitas Kawasan Berikat dan fasilitas KITE/KITE IKM berupa pemberian fasilitas pembebasaan atau penundaan pembayaran bea masuk dan pajak impor lainnya terhadap pemasukan bahan baku asal impor yang diolah di dalam negeri, di mana produk barang jadinya akan diekspor.

“Kawasan berikat sebagian besar garmen. Bahan bakunya kain impor rol-rolan, kemudian produk yang sudah jadi diekspor sehingga tidak bayar pajak. Fasilitas diberikan untuk perusahaan yang ekspor sehingga bisa bersaing dengan pasar global. Barang lain seperti perhiasan, mainan, kertas, sepatu, tetapi dominan garmen,” katanya. **

Editor: Hefli Harun & Vike

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *